perkembangan pervasive

March 16, 2010 keykhesweet

Autisme / infantil

Definisi :

Subkategori dan gangguan perkembangan pervasif pada bayi, anak-anak atau remaja Mulai timbul sebelum umur satu setengah tahun; kurang respon pervasif terhadap orang lain; perkembangan bahasa sangat terlambat; respon aneh terhadap lingkungan dan kurang interaksi dengan lingkungan.

Penyebab :

Tidak diketahui Predisposisi genetik mungkin memainkan peranan Kelainan neurologik non spesifik

Sign & Symptoms :

Gangguan dalam hubungan sosial (respon afektif kurang memadai, ketergantungan yang tidak sesuai, asosial, kurang enipati) Akeivitas berlebihan yang mendadak Afek yang konstriktif atau tidak memadai; kaku dalam pergaulan Gerakan motorik yang aneh (sikap, bergerak rumik dan hiperaktifitas) Cara bicara abnormal Mutilasi diri sendiri (self mutilation)

Treatment :

Bantuan keluarga Perlu banyak intervensi-intervensi Modifikasi tingkah Iaku Intervcnsi psikososial Pendidikan remedial.

Sumber : http://www.tanyadokter.com



ANAK DENGAN GANGGUAN SPEKTRUM AUTIS

Jika anda mendapatkan informasi tentang anak autis dari media, anda mungkin ingin tahu apakah yang menyebabkan penyimpangan dalam hidup mereka. Pada surat kabar, majalah atau artikel, biografi, dan roman terkadang anak autis dilukiskan seperti sesuatu yang istimewa namun esentrik, terkadang juga sebagai seseorang yang lemah, dan seolah-olah tidak dapat menjalani kehidupan sehari-hari. Sebenarnya, uraian di atas berdasarkan fakta. Autisme, sekarang ini umumnya dikenal sebagai gangguan spektrum autis, dan telah diuraikan sebagai suatu teka-teki, sebab secara luas jenis kelainan ini berbeda dan mempunyai karakteristik tersendiri dari kelainan lainnya.

1.  Definisi

Studi tentang gangguan spektrum autis adalah suatu istilah baru dalam pendidikan khusus. Bagaimanapun, anda    akan melihat perkembangan pemahaman tentang kelainan ini dengan cepat dan pada prakteknya, siswa-siswa ini menurut penelitian mereka memiliki karakteristik dan kebutuhan.

2. Perkembangannya

Pada tahun 1943, Leo Kanner, seorang psikolog membagi ke dalam sebelas kelompok anak-anak kelainan ini dengan kelainan yang lain. Menurut Kanner (1943), kebutuhan khusus anak-anak adalah nyata bahkan dari awal masa kanak-kanak, antara lain :

  • · Suatu ketidakmampuan dalam berhubungan dengan orang lain.
  • · Keterlambatan perkembangan bahasa, yaitu kegagalan perkembangan untuk tujuan komunikasi.
  • · Perkembangan dan pertumbuhan fisik.
  • · Perilaku akibat lingkungan.
  • · Memiliki suatu keasyikan dan daya tarik yang lebih pada suatu obyek.
  • · Perilaku yang berulang-ulang (stererotifik) dan memiliki stimulasi-stimulasi lain.

Karakteristik autis yang utama seperti telah dijelaskan oleh Leo Kanner yang lebih dari separuh abad yang lalu telah ditinjau kembali dan pada tahun terakhir definisi konseptual, autis berkembang menurut pengamatan Kanner. Kira-kira pada waktu yang sama sama kanner menulis tentang autis, Han Aspenger, seorang dokter, bekerjasama dengan kelompok anak-anak dengan gangguan perkembangan saraf dan gangguan sosial. Aspenger. Menjelaskan tentang kelompok anak diagnostik secara rinci (aspenger, 1944). Pekerjaan aspenger ini menekankan pada penyimpangan sosial, pengasingan, yaitu menyangkut kemampuan belajar anak. Ia mempercayai bahwa dalam beberapa hal anak-anak membentuk suatu kelompok yang berbeda.

3. Awal Kepercayaan

Selama tahun 1950-an & 1960-an para ahli medis percaya bahwa autis disebabkan oleh pemisahkan, kurangnya ibu  terkadang disebut “ibu lemari pendingin” suatu acuan terhadpa dinginnya mereka – yang melakukan kesalahan dalam pengasuhan bayi mereka. Sebagi dampak dari kepercayaan ini, banyak ibu menginginkan bagaimana membuat yang memiliki autisme agar mendapatkan kehangatan dan cinta agar anak-anak dapat tumbuh dengan baik. Penelitian kemudian mulai mempertanyakan masalah ini, namun tidak sampai tahun 1970-an muncullah studi dari pertunjukan kembar berdasarkan genetika untuk austisma. Setelah 10 tahun kemudian, studi ini telah diperluas & ditinjau kembali, dan telah sepenuhnya dapat membuktikan ketidakbenaran dongeng dari kesalahan pengasuhan sebagai penyebab autisma.

4. Penyusunan Pemahaman

Pada tahun 1981 perbedaan antara autisma & Sindrom Asperger menjadi hilang ketika Lorna Wing menulis tentang 35 anak & orang dewasa dengan gangguan keterlambatan, menimbulkan minat dalam perawatan & dalam hal ini. Sejak saat itu, para ahli lebih mempelajari sebagian besar tentang sekitar 2 perbedaan yang nyata. Sebagai contoh, mereka telah menentukan bahwa individu tersebut dengan gangguannya, mungkin memiliki gejala yang halus atau mungkin dampak yang cukup jelas (Wing, 1991). Autisme telah diidentifikasi sebagai salah satu katgori kecacatan dalam IDEA yang berawal pada tahun 1990 dan pada tahun 1994 ditambah menjadi gangguan khusus oleh Asosiasi Psikiater Amerika (APA) yang secara luas menggunakan Diagnostik dan Statistika Manual of Mentel Disorder, edisi ke 4 (Asosiasi Psikiater Amerika, 1994).

  • Definisi Gangguan Spektrum Autis

Sebagaimana yang telah anda temukan untuk jenis kecacatan yang lain, bahasa yang berhubungan dengan autisma memerlukan suatu penjelasan yang ringkas. Istilah tradisional yang digunakan untuk kelompok ini adalah Autisma, dan istilah tersebut telah digunakan banyak orang dan digunakan dalam IDEA dan beberapa undang-undang pendidikan khusus. Istilah Gangguan Spektrum Autis digunakan dalam buku ini karena mengklasifikasikan bahwa gangguan ini terjadi dalam banyak cara dan tidak bisa diuraikan dalam masing-masing jalan. Gangguan spektrum Autis dengan cepat menjadi istilah yang dipilih oleh para ahli dalam bidangnya. Akhirnya, seperti yang akan anda pelajari nanti, di dalam lingkaran medis, Autisme & Sindrom Asperger keduanya dipertimbangkan menjadi bagian dan kecacatan yang disebut gangguan perkembangan pervasif (GPP).

  • Definisi Pemerintah Pusat

Ketika autisma ditambahkan ke dalam IDEA pada tahun 1990, hal itu diartikan :

  1. Autisma berarti suatu kecacatan perkembangan yang dengan mantap mempengaruhi komunikasi lisan dan non lisan dan interaksi sosial, pada usia dibawah 3 tahun, yang berdampak pada perolehan pendidikan pada anak. Karakteristik lain yang dikaitkan dengan anak autis adalah perulangan aktifitas, penolakan terhadap perubahan lingkungan atau perubahan rutinitas harian dan tanggapan yang tak lazim pada perasaan. Istilah tersebut berlaku jika perolehan pendidikan anak kurang baik karena anak mengalami gangguan emosional
  2. Seorang anak yang memperlihatkan gejala “autis” pada usia di atas 3 tahun dapat didiagnosa mengalami “autisma” jika kriteria pada paragraf di atas terpenuhi.

Definisi ini mengikuti pedoman IDEA, menspesifikasikan beberapa karakter yang esensial dari siswa dengan gangguan tersebut, di luar kecacatan lain, dan ketetapan dampak dan perolehan pendidikan. Bagaimanapun, hal itu tidak menyediakan banyak detil dalam istilah-istilah dari pemahaman banyaknya jenis siswa yang mungkin mengalami gangguan-gangguan ini.

  • Definisi Asosiasi Psikiater Amerika

Karena Gangguan Spektrum Autis umumnya didiagnosa oleh komunitas medis menggunakan ukuran-ukuran permanen di dalam Diagnostik and Statistikal Manual of Mental Disorder, edisi ke-4. Perbaikan teks (Asosiasi Psikiater Amerika, 2000), adalah penting bahwa anda memahami definisi ini sebagaimana yang disediaka IDEA. Seperti yang dicatat diawal APA menggolongkan autisma sebagai jenis Gangguan Perkembangan Peruasif (GPP) yang ditandai oleh perusakan-perusakan pelemahan di beberapa area perkembangan; kemampuan interaksi sosial, keterampilan komunikasi atau pengulangan perilaku, minat dan aktivitas.

Sub kategori dari gangguan perkembangan peruasif dalam diskusi ini meliputi gangguan autistik, sindrom asperger, dan gangguan perkembangan peruasif tidak termasuk yang ditetapkan. Hasil diagnosa dari gangguan autis disediaka bagi individu yang menunjukkan penurunan interaksi sosial dan komunikasi, seperti halnya, perulangan, membeo dan diiringi oleh keterlambatan mental/retardasi mental.

Kriteria Gangguan Autisma

a)    Dari total enam (atau lebih) item dari (1), (2) dan (3), dengan sedikitnya dua dari (1) dan sisanya dari (2) atau (3).

b)    Penurunan kwalitatif dalam interaksi sosial, yang dinyatakan sedikitnya dua diantara yang berikut:

c)    Penurunan berbagai perilaku nonverbal seperti kontak mata, expresi wajah, perawakan badan dan isyarat dalam interaksi sosial.

d)    Kegagalan untuk mengembangkan hubungan kerjasama sesuai tingkatan perkembangan.

e)    Tidak adanya pergerakan spontan untuk mencari, memberi atau minat terhadap suatu benda dan menunjukkannya kepada orang lain.

f)   Tidak adanya sosialisasi atau timbal balik emosional.

g)    Penurunan kualitatif dalam komunikasi, yang dinyatakan sedikitnya satu dari yang berikut :

h)    Kesulitan/tidak adanya perkembangan bahasa bicara (tidak diiringi oleh, usaha perbaikan dengan alternatif komunikasi seperti isyarat/mimik).

i)    Individu dengan suara yang cukup, penurunan dalam kemampuan berkomunikasi dan arah dengan orang lain.

j)   Penggunaan bahasa yang diulah atau membeo

k)    Perilaku yang spontanitas yang suka meniru sesuai tingkat perkembangan.

l)    Keterbatasan, pengulangan, dan peniruan perilaku, minat & aktivitas, yang dinyatakan sedikitnya satu dari yang berikut :

m)  Ketertarikan terhadap satu atau lebih peniruan dan minat terhadap suatu dengan intensitas dan fokus.

n)    Minat yang tidak fleksibel ke spesifik, rutinitas dan ritual yang tidak berfungs

o)   Perulangan aktivitas dan peniruan.

p)    Keasyikan dengan bagian dari suatu benda.

q)    Keterlambatan/tidak bermalnya fungsi berikut sdikitnya satu dari yang beriku, sebelum usia 3 tahun :

(1) Iteraksi sosial

(2) Bahasa yang digunakan dalam komunikasi sosial atau

(3) permainan imajinatif & simbolis.

Gangguan-gangguan tersebut tidak lebih baik oleh gangguan Rett atau gangguan disintegratif pada kanak-kanak.

Sumber : /www.unj.ac.id/fip/plb/artikel.htm

Mengenal Autisme

Oleh: AsianBrain.com Content Team

Autisme merupakan gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang komunikasi, gangguan dalam bermain, bahasa, perilaku, gangguan perasaan dan emosi, interaksi sosial, perasaan sosial dan gangguan dalam perasaan sensoris.

1. Gangguan pada penderita autisme dalam komunikasi verbal maupun nonverbal

Kemampuan berbahasa mengalami keterlambatan atau sama sekali tidak dapat berbicara,. menggunakan kata kata tanpa menghubungkannya dengan arti yang lazim digunakan, berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi dalam waktu singkat. Kata-kata yang tidak dapat dimengerti orang lain. Suka menirukan kata, kalimat atau lagu tanpa tahu artinya. Bicaranya monoton seperti robot, tidak digunakan untuk komunikasi dan mimik datar

2. Gangguan pada penderita autisme dalam bidang interaksi sosial

Menolak atau menghindar untuk bertatap muka. Tidak menoleh bila dipanggil, sehingga sering diduga tuli. Merasa tidak senang atau menolak dipeluk. Bila menginginkan sesuatu, menarik tangan-tangan orang yang terdekat dan berharap orang tersebut melakukan sesuatu untuknya. Tidak berbagi kesenangan dengan orang lain. Saat bermain bila didekati malah menjauh.

3. Gangguan pada penderita autisme dalam bermain

Bermain sangat monoton dan aneh, mengamati dengan seksama dalam jangka waktu lama. Ada kelekatan dengan benda tertentu seperti kertas, gambar, kartu atau guling, terus dipegang dibawa kemana saja dia pergi. Bila senang satu mainan tidak mau mainan lainnya. Tidak menyukai boneka, tetapi lebih menyukai benda yang kurang menarik seperti botol, gelang karet, baterai, dsb. Tidak reflek, tidak berimajinasi dalam bermain, tidak dapat meniru tindakan temannya, dan tidak dapat memulai permainan yang bersifat pura pura. Sering memperhatikan jari-jarinya sendiri, kipas angin yang berputar atau angin yang bergerak.

4. Gangguan pada penderita autisme dalam berperilaku

Sering dianggap sebagai anak yang senang kerapian, harus menempatkan barang tertentu pada tempatnya. Terlihat hiperaktif, sering menyakiti diri sendiri seperti memukul atau membenturkan kepala. Kadang sangat hiperaktif atau sangat pasif. Marah tanpa alasan yang masuk akal. Sangat menaruh perhatian pada satu benda, ide, aktifitas ataupun orang. Tidak dapat menunjukkan akal sehatnya. Dapat sangat agresif ke orang lain atau dirinya sendiri. Gangguan kognitif tidur, gangguan makan dan gangguan perilaku lainnya.

4. Gangguan penderita autisme pada perasaan dan emosi

Perilaku tertawa-tawa sendiri, menangis atau marah tanpa sebab nyata. Sering mengamuk tak terkendali, terutama bila tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan, bahkan bisa menjadi agresif dan merusak.. Tidak dapat berempati dengan anak lain

5. Gangguan pada penderita autisme dalam persepsi sensoris

Perasaan sensitif terhadap cahaya, pendengaran, sentuhan, penciuman dan rasa dari mulai ringan sampai berat. Menggigit, menjilat atau mencium mainan atau benda apa saja. Bila mendengar suara keras, menutup telinga. Menangis setiap kali dicuci rambutnya. Merasakan tidak nyaman bila diberi pakaian tertentu. Tidak menyukai rabaan atau pelukan, Bila digendong sering melepaskan diri dari pelukan.

Autisme dipengaruhi oleh multifaktorial. Sejauh ini, masih belum terdapat kejelasan secara pasti mengenai penyebab dan faktor resikonya. Strategi pencegahan yang dilakukan masih belum optimal. Saat ini tujuan pencegahan hanya sebatas mencegah agar gangguan yang terjadi tidak lebih berat lagi, bukan untuk menghindari. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengungkap secara jelas misteri penyebab gangguan ini sehingga nantinya dapat dilakukan strategi pencegahannya.

www.anneahira.com/kesehatan-anak/autisme.htm

Tujuh Gangguan Tumbuh Kembang Anak yang Perlu Kita Ketahui

Perkembangan dan tumbuh kembang anak perelu kita pantau secara terus menerus. Dengan  memperhatikan tumbug kembangnya kita berharap dapat mengethauinya secara dinin kelainan pada anak kita sehingga langkah-langkah antisipatif lebih cepat kita ambil. Anak yang cedas adalah harapan setiap orang tua. Orang tua selalu berharap agar anaknya dapat tumbuh sehat. Berikut 7 gangguan tumbuh kembang anak yang perlu kita ketahui :

1) Gangguan Bicara dan Bahasa. Kemampuan berbahasa merupakan indikator seluruh perkembangan anak. Kurangnya stimulasi akan dapat  menyebabkan gangguan berbicara dan berbahasa bahkan gangguan ini dapat menetap.

2) Cerebral Palsy. Merupakan suatu kelainan gerakan dan postur tubuh yang tidak progesif, yang disebakan oleh kerusakan pada sel-sel motorik pada susunan saraf pusat yang sedang tumbuh/belum selesai pertumbuhannya

3) Sindrom Down. Anak dengan sinndrom down adalah individu yang dapat dikenal dari fenotifnya dan mempunyai kecerdasan yang terbatas, yang menjadi akibat adanyan jumlah kromsomnya 21 yang lebih. Beberapa faktor seperti kalainan jantung kongential, hipotonia yang berat, masalah biologis atau lingkungan lainnya dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan motoril dan ketrampilan untuk menolong diri sendiri.

4) Perawatan Pendek. Penyebabnya dapat karena variasi normal, gangguan gizi, kelainan kromosom, penyakit sistematik atau karena kelainan endokrin.

5) Gangguan Autisme. Merupakan gangguan perkembangan pervasive pada anak yang gejalanya muncul sebelum anak berumur 3 tahun. Perpasif berarti meliputi seluruh aspek perkembangan sehingga gangguan tersebut sangat luas dan berat, yang emepengaruhi anak secara mendalam. Gangguan perkembangan yang ditemukan pada autisme mencakup bidang interaksi sosial, komunikasi dan perilaku.

6) Retardasi Mental. Merupakan suatu kondisi yang ditandai oelh intelektual yang rendah (IQ<70) yang menyebabkan ketidakmampuan individu untuk belajar dan beradaptassi terhadap tuntunan masyarakat atas kemampuan yang dianggap normal.

7) Gangguan Pemusatan Perhatiam dan Hiperaktif (GPPH). Merupakan gangguan dimana anak mengalami kesulitan untuk memusatkan yang seringkali disertai dengan hiperaktivas.

http://www.sobatsehat.com/2009/10/19/7-gangguan-tumbuh-kembang-anak-yang-perlu-kita-ketahui/

Asperger Syndrome

Gangguan Asperger atau dikenal dengan istilah Asperger syndrome (AS), juga disebut sebagai Asperger disorder merupakan salah satu satu jenis gangguan dari kelompok gangguan perkembangan pervasif (pervasive development disorders; PDD). Gangguan Asperger adalah gangguan pada fase perkembangan terutama pada interaksi sosial dan perilaku yang terbatas dan tidak adanya keingintahuan terhadap lingkungan sekitarnya. Ciri yang hampir mirip dengan gejala-gejala autisme, sehingga gangguan Asperger seringkali disebut sebagai spektrum gangguan autis (autism spectrum disorders; ASDs).

Istilah sindrom Asperger pertama sekali diperkenalkan oleh Hans Asperger (1944), pengertian yang sempit menyerupai pengertian gangguan autisme dari Kanner’s (1943) telah menimbulkan kontroversial pada saat itu. Namun demikian melalui penelitian yang panjang, konsep gangguan Asperger barulah dapat diterima dan diakui dalam DSM IV pada tahun 1994.

Lorna Wing (1981) adalah salah satu peneliti yang mempopularkan istilah sindrom Asperger, ia tertarik untuk mempublikasikan beberapa penelitiannya mengenai sindrom tersebut. Ia juga membuat kriteria klinis tersendiri gangguan Asperger;

  1. Kurang empati
  2. Naif, interaksi satu arah, sedikit kemampuan untuk berteman dan dijauhi oleh orang lain
  3. Berbicara kekanakan dan mononton
  4. Miskin komunikasi nonverbal
  5. Keterbatasan dalam memahami topik seperti cuaca, peta, berita dalam bergerak, janggal, dan memiliki postur tubuh tidak lazim

Pada awalnya Asperger mengkategorikan gangguan tersebut hanya muncul pada anak laki-laki, penelitian berkelanjutan menemukan gangguan tersebut juga mengidap pada anak perempuan. Beberapa penelitian modern menemukan prevalensi gangguan lebih banyak pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan (Ehler & Gillberg, (1993), Wolf dkk (1991), Wing (1978), Wolff & Barlow (1979), Gillberg (1993))

Sampai saat ini belum ditemukan pengobatan untuk sindrom Asperger, sama halnya dengan gangguan ASDs lainnya. Treatment diberikan agar individu dapat mandiri dan dapat menghadapi situasi-situasi sosial. Anak dengan gangguan Asperger mungkin memiliki range inteligensi yang normal, namun anak dengan gangguan Asperger juga memiliki sedikit keterbelakangan mental, disamping itu gangguan keterlambatan dalam penguasaan bahasa atau berbicara juga lebih baik dibandingkan anak autis. Penelitian juga menemukan bahwa anak-anak dengan gangguan Asperger memiliki kemampuan luar biasa dalam menghafal, meskipun terjadi gangguan psikomotorik. Penelitian dalam hal ini masih dalam studi yang lebih mendalam. Anak dengan AS kesulitan untuk berteman dengan kelompoknya, mereka lebih suka menyendiri kadang disertai dengan perilaku yang eksentrik. Misalnya saja mereka suka menghitung kendaraan yang lewat di jalan raya atau menonton acara televisi prakiraan cuaca saja, meskipun ia tidak mengerti apa yang sedang ia tonton

Simtom

Secara umum beberapa gejala sindrom Asperger;

  1. nonverbal yang tidak normal, misalnya menghindari kontak mata, berhadapan dengan orang lain
  2. Kegagalan dalam mengembangkan hubungan dengan orang lain dan kesulitan bersama kelompok bermainnya, misalnya anak lebih suka atau nyaman bersama orang dewasa atau orangtuanya
  3. Tidak mampu bersikap spontan dalam menikmati, ketertarikan atau menghargai orang lain
  4. Kesulitan memahami ekspresi wajah
  5. Ketidakmampuan mengenal emosi
  6. Berperilaku tertentu seperti mengisap jari, berjalan berbelok-belok atau gerak tubuh yang ganjil
  7. Tidak dapat bersikap fleksibel dan tergantung pada rutinitas
  8. Hanyut dalam suasana atau bermain ketergantungan pada sesuatu benda-benda tertentu
  9. Tidak tertarik dan sensistif terhadap lingkungannya, misalnya dengan suara, baju yang idpakai, makanan atau bau-bau busuk.

10.  Gangguan dalam berbicara atau berbahasa terutama pada penguasaan semantik dan intonasi, sehari-harinya kadang mereka juga berbicara dalam bahasa yang formal (Hans Asperger menyebut anaknya dengan sebutan “profesor kecil“)

11.  Kesulitan dalam menginterpretasikan bahasa atau kesulitan dalam mengartikan maksud dalam percakapan

12.  aSuka mengulang perbuatan-perbuatan yang dilarang

Anak dengan AS memiliki keteratrikan dengan peta, globe atau rute jalan, ia dapat menghabiskan waktu berjam-jam untuk melihat peta, disamping itu anak AS juga mempunyai kemampuan membaca, namun mereka tidak mengerti dengan apa yang barusan ia baca (hyperlexia).

Tenaga medis haruslah melakukan beberapa studi banding terhadap kasus AS yang diduga muncul pada pasien, diagnosa banding adalah; autisme infantil, gangguan kepribadian schizoid, gangguan kepribadian obsessive-compulsive, retardasi mental, ADHD, sebelum memutuskan diagnosa secara tepat.

Kriteria berdasarkan DSM IV tahun 1994

  1. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial, seperti yang ditunjukkan berikut (sekurangnya dua gejala):
  • · Ditandai gangguan dalam penggunaan perilaku nonverbal seperti tatapan mata, ekspresi wajah, postur tubuh, dan gerak-gerik untuk mengatur interaksi sosial.
  • · Gagal mengembangkan hubungan dengan teman sebaya yang sesuai menurut tingkat perkembangan.
  • · Gangguan untuk secara spontan membagi kesenangan, perhatian atau prestasi dengan orang lain (seperti kurang memperlihatkan, membawa atau menunjukkan
    obyek yang menjadi perhatian orang lain).
  • · Tidak adanya timbal balik sosial dan emosional.

2. Pola perilaku, minat dan aktivitas yang terbatas, berulang dan stereotipik, seperti yang ditunjukkan oleh sekurang -kurangnya satu dari berikut :

  • · Preokupasi dengan satu atau lebih pola minat yang stereotipik, dan terbatas, yang abnormal baik dalam intensitas maupun fokusnya.
  • · Ketaatan yang tampaknya tidak fleksibel terhadap rutinitas atau ritual yang spesifik dan nonfungsional.
  • · Manerisme motorik stereotipik dan berulang (menjentik dan mengepak-ngepak tangan atau jari, atau gerakan kompleks seluruh tubuh).
  • · Preokupasi persisten dengan bagian-bagian obyek.
  1. Gangguan ini menyebabkan gangguan yang bermakna secara klinis dalam fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lainny
  2. Tidak terdapat keterlambatan menyeluruh yang bermakna secara klinis dalam bahasa (misalnya, menggunakan kata tunggal pada usia 2 tahun, frasa komunikatif digunakan pada usia 3 tahun).
  3. Tidak terdapat keterlambatan bermakna secara klinis dalam perkembangan kognitif atau dalam perkembangan ketrampilan menolong diri sendiri dan perilaku adaptif yang sesuai dengan usia (selain dalam interaksi sosial), dan keingintahuan tentang lingkungan pada masa kanak-kanak.
  4. Tidak memenuhi kriteria untuk gangguan pervasif spesifik atau skizofrenia

Faktor Penyebab

Faktor penyebab kemunculan AS tidak diketahui dengan pasti, penelitian menitikberatkan adanya beberapa gangguan di otak. Saat ini para ahli sedang meneliti fungsi yang berbeda pada area-area tertentu di otak terutama pada fase fetal. Diperkirakan kemunculan AS disebabkan oleh adanya gangguan struktur otak yang mempengaruhi kerja susunan syaraf terhadap cara kontrol otak dan perilaku, Faktor lain yang diduga sebagai penyebab kemunculan AS adalah faktor genetika

Treatment

Pemberian treatment difokuskan pada tiga bidang simtom yang muncul pada AS; komunikasi, perilaku mengulang dan fisik. Keberhasilan treatment tergantung pada penyusunan program yang disesuaikan dengan minat dan karakteristik sang anak.

Ketrampilan sosial.

Ketrampilan sosial (social skills training) bertujuan untuk mengajarkan anak dengan ketrampilan dalam berinteraksi dengan anak-anak sebayanya.

Penderita AS mempunyai kecenderungan menggantungkan diri pada aturan yang kaku dan rutinitas. Keadaan ini dapat digunakan untuk mengembangkan kebiasaan yang positif dan meningkatkan kualitas hidup. Penderita AS diajarkan teknik coping dari perilaku orang-orang disekelilingnya, dengan mencontoh perilaku orang individu juga srategi menyelesaikan masalah diajarkan untuk menangani keadaan yang sering terjadi, situasi sulit seperti terlibat dengan hal baru, kebutuhan sosial dan frustrasi. Disamping itu pasien juga dilatih untuk mengenal situasi sulit dan memilih strategi yang pernah dipelajari untuk situasi baru.

Ketrampilan berkomunikasi.

Anak diberikan cognitive behavioral therapy (CBT) yang bertujuan untuk membantu anak dalam memanage emosinya secara lebih baik sehingga anak dapat diterima oleh lingkungan sekitarnya, terapi ini juga berguna untuk mengendalikan perilaku mengulang dan rutinitas. Terapi ini dapat dilakukan secara individual ataupun dengan kelompok. komunikasi dan bahasa meliputi; perilaku nonverbal, mengenal dan membaca perilaku nonverbal pada orang lain, kesiagaan diri, perspective taking skill, dan interpretasi komunikasi.

Pelatihan pada orangtua

Pelatihan pada orangtua bagaiman menghadapi simtom dan memberi dukungan kepada anak dengan gangguan AS.

Strategi yang dapat dilakukan;

1)      Melatih anak dalam berbicara, orangtua harus bersikap sabar dan penuh kasih sayang dalam berbicara dengan anak gangguan AS. Orangtua diharapkan sesering mungkin mengajak anaknya berbicara dengan menyesuaikan kemampuan ang dimiliki anak, bicaralah dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh mereka.

2)      Berikanlah tugas-tugas yang mampu diselesaikan oleh anak berserta dengan instruksi yang jelas (baik berupa perintah atau gambar), tanyankanlah pada anak apakah ia sudah cukup menegrti dengan tugas yang diberikan.

3)      Usahakanlah anak menatap orangtuanya ketika berbicara.

4)      Berikanlah pujian ketika ia dapat menyelesaikan tugasnya dan ketika ia melakukan hal-hal lain yang positif tanpa disuruh

5)      Latihlah anak untuk belajar memilih dari beberapa alternatif yang diajukan.

Medikasi
Perlu diingat bahwa tidak ada obat-obatan medis yang dapat menyembuh gangguan AS ini, dokter akan memberikan obat bila disertai dengan beberapa gejala lain berupa gangguan kecemasan, atau depresi misalnya.

Pemberian obat-obatan seperti jenis serotonin; risperidone, olanzapine, quetiapine diperuntukkan untuk meredam perilaku agresivitas atau self injuries. Jenis SSRI lainnya seperti fluoxetin diberikan bila disertai dengan gangguan kecemasan dan clomipramine diberikan untuk meredamkan perilaku obsesif.

Lainnya
Terapi fisik dan sensorik untuk mengetahui permasalahan yang mengakut system koordinasi dan psikomotorik. [PD]

Retardasi Mental

Retardasi mental adalah gangguan yang secara klinik dan etiologik sangat heterogen. Retardasi mental adalah keterbatasan yang substansial dari fungsi yang ada, yaitu kesulitan belajar dan ketrampilan hidup sehari-hari. Karakteristiknya adalah fungsi intelektual dibawah rata-rata (IQ<70-75) yang disertai 2 atau lebih keterbatasan dalam ketrampilan penyesuaian seperti komunikasi, merawat diri, kehidupan di rumah, kecakapan sosial, kecakapan memanfaatkan sumber yang ada di masyarakat, mengatur diri, kecakapan akademik, bekerja, berekreasi, kesehatan dan keselamatan. Retardasi mental disebabkan akibat kejadian sebelum kehamilan, selama kehamilan, saat melahirkan atau masa perinatal antara lain karena kelainan biokimiawi, kelainan genetik, gangguan psikiatrik, dan pengaruh dari lingkungan. Penyakit retardasi mental yang terkenal antara lain sindrom Prader-Willi, sindrom Angelman, sindrom Down, sindrom fragile X. Diidentifikasi secara seluler Sindrom Prader-Wili dan Angelman mempunyai kelainan yang sama yaitu delesi pada lengan panjang kromosom 15 (15q1.1-3). Setelah ditemukan diagnosis molekuler ternyata delesi pada sindrom Prader-Wili berasal dari ayah (paternal), sindrom Angelman delesi berasal dari ibu (maternal). Sedangkan sindrom down merupakan penyebab genetik utama retardasi mental dan sindrom fragile X merupakan penyebab genetik ke dua retardasi mental dan sebagai penyebab utama retardasi mental yang diwariskan. Sindrom down termasuk golongan penyakit genetik yang hampir selalu tidak diwariskan, umumnya bukan penyakit keturunan, tetapi mutasi baru yang berhubungan dengan usia ibu. Sindrom fragile X, berdasarkan deteksi seluler, penyakit ini ditandai oleh kerapuhan (fragile) yang tampak seperti patahan di ujung akhir legan panjang kromosom X pada regio q27.3. Sindrom fragile x merupakan penyakit keturunan yang diwariskan lewat jalur ibu, maka resiko pewarisan pada anak laki-laki (penderita) 50% dan resiko pembawa gen abnormal pada anak perempuan (carrier) juga 50%. Pencegahan sindrom fragile X dapat dilakukan dengan diagnosis prenatal dari cairan amnion atau biopsi villi chorialis. (FA)

http://eprints.undip.ac.id/299/

Entry Filed under: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Pages

Categories

Calendar

March 2010
M T W T F S S
    Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Most Recent Posts

 
%d bloggers like this: